Minggu, 16 Februari 2014

Sistem Pendidikan di Negara Maju

Finlandia
  • Anak Finlandia memulai sekolah pada usia 7 tahun. Masyarakat Finlandia meyakini, 7 tahun adalah usia yang stabil bagi otak untuk menerima berbagai hafalan pembelajaran.
  • Tidak ada pekerjaan rumah (PR) dan ujian yang diberikan sekolah Finlandia. Tugas-tugas untuk mengumpulkan nilai di sekolah baru diberikan ketika anak memasuki usia sekolah remaja. Karena pada usia tersebut, anak sudah mulai bisa mengatur waktu mereka antara mengerjakan tugas dan bergaul dengan teman.
  • Anak-anak tidak diberi ulangan harian sama sekali selama 6 tahun pertama pendidikan mereka. Coba lihat di Indonesia, murid SD sampai stres karena ditakuti dengan setumpuk ulangan oleh pihak sekolah.
  • Hanya ada 1 tes standart wajib di Finlandia, yang diambil ketika anak-anak berusia 16 tahun. Di Indonesia, dengan sistem Ujian Nasional (UN) sudah banyak pakar mengkritik dan membuktikan bahwa sistem ini menjadikan anak seolah hanya dihargai dari nilai ujiannya saja. Tanpa melihat bakat dan minat serta kelebihan yang lainnya.
  • Tidak ada kelas unggulan di Finlandia. Semua kemampuan berada di kelas yang sama tanpa memandang dia si pintar, si bodoh, si kaya, atau si miskin.
  • Finlandia menghabiskan sekitar 30% lebih untuk biaya pendidikan per siswa. Jumlah ini diakui mengungguli jumlah persentase dari Amerika Serikat.
  • Terdapat kelas sains yang maksimal diisi oleh 16 siswa. Siswa pada kelas sains ini tidak akan lulus sebelum siswa dapat melakukan eksperimen praktis dalam setiap kelas.
  • Terdapat 93% masyarakat Finlandia lulus SMA. Bahkan 17,5% lebih tinggi dari Amerika Serikat.
  • Siswa SD di Finlandia mendapatkan 75 menit waktu istirahat di sekolah.
  • Finlandia memiliki jumlah guru sebanyak di New York, tetapi jumlah siswanya lebih sedikit. Dengan perbandingan 600.000 siswa di Finlandia dengan 1,1 juta siswa di New York City.
  • Sistem sekolah didanai 100% oleh negara.
  • Semua guru di Finlandia harus memiliki gelar master, yang sepenuhnya disubsidi oleh pemerintah.
  • Gaji awal rata-rata untuk seorang guru di Finlandia adalah $29.000 pada tahun 2008, atau kurang lebih berkisar 30 juta rupiah per bulan.
Selandia Baru
  • Selandia Baru memiliki angka melek huruf sebesar 99% dan lebih dari setengah populasi berusia 15-29 tahun menjalani pendidikan tinggi.
  • Ada 8 bidang ilmu yang dipelajari di SD, yaitu English, Arts, Health and Physical Education, Learning Languages, Mathematics and Statistics, Science, Social Science, dan Technology.
  • Ada Primary school yang terdiri dari kelas 1-6, lalu diteruskan ke intermediate school untuk kelas 7-8.
  • Setiap sekolah diperiksa kualitasnya oleh ERO (Education Review Office) setiap 3 tahun sekali. Hasil ERO untuk setiap sekolah dapat dilihat dan dibaca oleh siapa saja karena dipublikasikan gratis secara online.
  • Lembaga pendidikan Selandia Baru selalu melakukan penelitian rutin di sekolah-sekolah dengan decile rating rendah. Decile rating adalah tingkatan ekonomi dari orang tua yang anaknya bersekolah di sekolah tertentu. Decile rating 1 adalah rata-rata murid yang bersekolah datang dari tingkat sosial ekonomi rendah. Sedangkan decile rating 10 adalah rata-rata murid yang bersekolah datang dari tingkat sosial ekonomi tinggi. Dari hasil observasi fasilitas, kualitas guru maupun mutu pengajaran ternyata tidak ada bedanya antara sekolah dengan decile rating rendah dan tinggi.
Jepang
  • Jepang meniadakan Ujian Nasional karena semua sekolah sudah didasari oleh kurikulum yang dijaga sangat ketat oleh Kementrian Pendidikan Sains dan Teknologi Jepang (MEXT).
  • Pedoman kurikulum yang diberikan MEXT yang disebut Gakushuu Shido Youryou harus menjadi acuan sekolah, baik SD, SMP, SMA, dan sekolah kejuruan di Jepang.
  • Pelajaran bahasa Inggris sangat ditekankan agar pelajar Jepang dapat lebih siap bergaul dengan kalangan internasional.
  • Kyoukasho atau buku pelajaran Jepang dibagikan gratis oleh pemerintahan Jepang dengan berbagai perbaikan.
  • Pendidikan di Jepang sampai dengan SMP umumnya mendapat subsidi uang dari pemerintah, sehingga pelajar dapat belajar secara gratis. Para orang tua bahkan mendapat uang untuk uang sekolah, membeli makanan bergizi, biaya transportasi sekolah dan berbagai keperluan lain si anak.
  • Pendidikan di Jepang mencakup pendidikan formal di sekolah, pendidikan moral di rumah, dan pendidikan masyarakat (pendidikan seumur hidup). 
Melihat sistem pendidikan dari negara Finlandia, Selandia Baru, dan Jepang, saya berpikir kapan ya sistem pendidikan di Indonesia diubah? Menurut saya, sistem pendidikan di Indonesia lebih mengutamakan nilai daripada ilmu. Coba saja sekolah di Indonesia 100% dibiayai oleh pemerintah seperti di Finlandia dan Jepang. Daripada uang rakyat dibuat korupsi kan, lebih baik digunakan untuk memajukan pendidikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar